Doa Kamilin Setelah Shalat Tarawih: Lafadz Arab, Latin, dan Arti

Panduan Doa Kamilin Arab dan Latin usai Tarawih. Dilengkapi makna mendalam, hukum membaca, dan sumber kitab ulama Nusantara terpercaya.

Melaksanakan ibadah di malam Ramadan terasa belum lengkap tanpa membaca Doa Kamilin. Secara tradisional, doa ini dibaca oleh Umat Muslim, khususnya di Indonesia, tepat setelah menyelesaikan rangkaian salat Tarawih dan sebelum beralih ke salat Witir. Nama “Kamilin” sendiri diambil dari kata pertama dalam doa tersebut yang berarti “orang-orang yang sempurna”, merujuk pada permohonan agar Allah SWT menjadikan hamba-Nya pribadi dengan iman yang sempurna.

Kehadiran doa ini dalam rangkaian ibadah malam bertujuan untuk memohon keberkahan, kemantapan iman, serta keselamatan di dunia dan akhirat. Meskipun bukan bagian dari rukun salat, membacanya telah menjadi tradisi yang sangat melekat bagi jemaah di masjid maupun musala di tanah air.

Keutamaan dan Tujuan Membaca Doa Kamilin

Membaca Doa Kamilin memiliki esensi permohonan yang sangat mendalam bagi setiap individu yang menjalankannya. Berikut adalah beberapa tujuan utama dari pengamalan doa ini:

  • Memohon Kesempurnaan Iman: Fokus utama doa ini adalah meminta agar Umat Muslim digolongkan sebagai orang yang memiliki iman kamil (sempurna).
  • Kedisiplinan Beribadah: Di dalam teksnya terdapat poin permohonan agar mampu menjaga salat, menunaikan zakat, serta konsisten menuntut kebaikan di sisi Allah SWT.
  • Keselamatan Akhirat: Doa ini mencakup permintaan agar dijauhkan dari api neraka, mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW, serta dimasukkan ke dalam surga bersama golongan orang-orang saleh.
  • Rasa Syukur dan Sabar: Melalui doa ini, jemaah diajak untuk memohon hati yang rida terhadap ketentuan Allah, syukur atas nikmat, serta tabah dalam menerima cobaan.

Bacaan Doa Kamilin Setelah Tarawih

Berikut lafal doa kamilin yang dibaca sesudah shalat tarawih, lengkap dengan tulisan arab, latin, dan artinya:

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Arti dan Makna Mendalam Doa Kamilin

Memahami arti dari doa yang dipanjatkan akan menambah kekhusyukan saat beribadah. Secara garis besar, terjemahan dari doa ini adalah permohonan agar kita dijadikan pribadi yang sempurna imannya, mampu menunaikan segala kewajiban, serta mengharap ampunan Allah SWT.

Di bagian akhir doa, terdapat gambaran indah mengenai nikmat surga, seperti mengenakan pakaian dari sutera berwarna-warni, menikmati hidangan surga yang lezat, hingga meminum susu dan madu yang suci bersih bersama para nabi dan orang-orang saleh. Kalimat ini menjadi motivasi spiritual bagi Umat Muslim untuk terus istikamah dalam beribadah di bulan Ramadan.

umber dan Tradisi Doa Kamilin di Nusantara

Doa Kamilin bukanlah bacaan baru, melainkan warisan berharga dari para ulama Nusantara. Teks doa ini dapat ditemukan dalam berbagai kitab doa yang disusun oleh kyai ternama, di antaranya:

  1. Silah al-Mujarrab karya KH Maftuh Basthul Birri.
  2. Majmu’ah Maqruat karya KH Abdullah Faqih, Pengasuh Pesantren Langitan Tuban.

Doa-doa dalam kitab tersebut merupakan hasil ijazah dari para ulama besar seperti Kiai Abdul Hadi, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, hingga Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. KH Abdullah Faqih sendiri telah memberikan restu bagi siapa saja yang ingin mengamalkannya demi kelancaran ibadah Ramadan.

Hukum Membaca Doa Kamilin

Penting untuk dipahami bahwa hukum membaca Doa Kamilin bersifat sunah atau sangat dianjurkan. Artinya, membaca doa ini akan mendatangkan pahala dan kebaikan bagi yang mengamalkannya, namun tidak menjadi faktor penentu sah atau tidaknya salat Tarawih yang telah dilaksanakan. Jika karena suatu alasan Anda tidak sempat membacanya, salat Tarawih tetap dianggap sah secara syariat.

Dengan memahami teks, arti, hingga sejarah di baliknya, diharapkan ibadah malam Anda di bulan Ramadan ini menjadi lebih bermakna. Doa Kamilin adalah jembatan spiritual untuk memperkuat harapan kita kepada Allah SWT setelah bersusah payah menjalankan rangkaian salat malam.