Wakatobi Dijadikan Daerah Kreatif Bidang Film, Animasi dan Video

0

Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) disepakati dan ditetapkan sebagai Kabupaten kreatif bidang film, animasi dan video. Hal itu kemukakan oleh Direktur Infrastruktur Ekonomi Kreatif, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) republik Indonesia, Hariyanto, di sekretariat kantor Bupati Wakatobi, Senin (20/9/2021).

Hariyanto menjelaskan, Penetapan film, animasi dan video berdasarkan banyak pertimbangan yang terakumulasi didalamnya, bukan semata-mata jumlah kuantitas. Intinya adalah bagian dari strategi karena potensi yang dimiliki Wakatobi, khususnya film, animasi dan video merupakan leading sektor yang akan mendorong sub sektor yang lainnya. Sehinga bisa lebih maju, dikenal luas, dan berkiprah bukan saja bagi Wakatobi dan masyarakat sekitar tetapi nasional bahkan internasional.

Menurutnya, Ada tiga kegiatan penting dari strategi pengembangan Kabupaten/Kota kreatif Indonesia, yakni Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I), uji petik, dan kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama diwujudkan dalam berita acara serah terima hasil uji petik.

“Nah, di situ kita sepakat semua, Pemda bersama seluruh stakeholder dan pemerintah pusat melalui Kemenparekraf, Badan Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Baparekraf) RI bahwa Wakatobi sebagai Kabupaten Kreatif bidang film, animasi dan video,” ucapnya, pasca penandatanganan berita acara hasil uji petik.

Untuk menetapkan Wakatobi sebagai Kabupaten kreatif bidang film, animasi dan video, masih ada beberapa langkah yang akan dilakukan. pihaknya akan memantau, memonitor, dan mengevaluasi sejauh mana komitmen yang sudah disepakati bersama ini terus dibina dan dikembangkan bersama-sama.

“Setelah tahapan ini, selanjutnya menuju penetapan secara resmi oleh negara melalui Kemenparekraf RI,”katanya.

Rentan waktu monitoring evaluasi sifatnya normatif, bisa sebulan dan seterusnya. Namun melihat komitmen yang sangat tinggi dari seluruh stakeholder, terlebih lagi komitmen Bupati sebagai Chief Executive Officer (CEO) dan seluruh masyarakat.

Ia meyakini bahwa Wakatobi segera mendapatkan penetapan oleh negara, segera mendapatkan legacy dari pemerintah sebagai Kabupaten kreatif.

“Dan semoga Wakatobi menjadi ikon di wilayah Indonesia Timur, karena dari 10 Kabupaten/Kota kreatif yang sudah ditetapkan kebetulan belum ada yang mewakili dari wilayah Indonesia timur,” tuturnya.

Lanjut Harianto menjelaskan, sub sektor bukan berarti satu-satunya yang ada di Wakatobi, tetapi mewakili seluruh potensi 17 sub sektor ekonomi kreatif di Wakatobi. Khususnya 5 sub sektor terbesar selain film, animasi dan video, ada kuliner, kriya, seni pertunjukan, dan musik.

Dijelaskan, PMK3I merupakan salah satu kegiatan prioritas dari Kemenparekraf dan dikawal langsung Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno. Sehingga dapat dipastikan, manakala nanti sudah ada penetapan, tentu berbagai kebijakan dan pengembangannya lebih lanjut, menjadi bagian penting bagi pihaknya untuk terus melakukan pendampingan dan melakukan penetrasi-penetrasi program.

“Bukan saja oleh Kemenparekraf, juga Kementerian/lembaga lain, bukan juga skala nasional, kami juga bisa mengantarkan, manakala Wakatobi ingin mengajukan nominasi sebagai creative Cities (Kota Kreatif) dunia melalui United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO),” jelasnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Bupati Wakatobi, Haliana mengatakan penetapan 10 daerah sebagai Kabupaten/Kota kreatif, belum ada dari Indonesia Timur, tentu ini menjadi momentum bahwa Kabupaten Wakatobi akan menjadi perwakilan atau yang mendapatkan predikat sebagai Kabupaten kreatif yang pertama kali dari kawasan Timur Indonesia.

“Diharapkan ini bukan sekedar predikat saja, tetapi akan menjadi momentum kebangkitan pelaku-pelaku usaha dan ekonomi kreatif serta pelaku ekonomi yang lain,” ujarnya.

Disebutkan bahwa ada 166 pelaku usaha yang mengisi formulir. Menurut Haliana, itu sebagai bukti bagaimana pemda dan masyarakat berjuang sekeras mungkin untuk membuktikan kesiapan menyongsong predikat Wakatobi sebagai Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN). Wakatobi bukan hanya persoalan keindahan alam, tapi sumber daya manusia masyarakat dan pemda telah siap untuk menyongsong predikat itu dari segala aspek.

“Dari lima subsektor ada satu yang ditetapkan sebagai subsektor unggulan kita, yaitu perfilman. Kalau kita melihat peran perfilman jika dikaitkan dengan sub sektor yang lain lebih pada aspek pemasarannya. Karena kita menganggap sebagai lokomotif tentu lokomotif berada di depan. Sehingga kami yakin, dengan lokomotif itu pasti dapat mendukung potensi, serta mampu mengkonsolidasi sektor-sektor lain yang dimiliki Wakatobi untuk dikembangkan,” tandasnya.

Secara teknis, koordinator tim uji petik PMK3I, Luhur, menyebutkan pada dasarnya pihaknya ingin melihat semua pelaku ekraf yang telah terdaftar dan mengisi borang. Namun karena keterbatasan waktu, tercatat sebanyak 17 dari 166 pelaku ekonomi kreatif menjadi representasi yang dilakukan uji petik di lapangan.

Dari 17 itu mewakili lima sub sektor, yakni dari sub sektor kuliner, sub sektor kriya yang sangat kental dengan kekuatan potensi sumberdaya lokal, sub sektor seni pertunjukan, sub sektor musik dan sub sektor perfileman, animasi dan video.

Menurutnya, sebagian para pelaku itu masih bergerak sendiri-sendiri atau secara parsial. Ia berharap, pasca uji petik ini para pelaku ekonomi kreatif itu bisa saling berkolaborasi, dalam satu wadah besar ekonomi kreatif di Wakatobi.

“Sehingga bisa lebih saling memberikan manfaat dan mengeluarkan potensi untuk dikembangkan. Untuk mendorong percepatan akselerasi ekonomi kreatif tentunya disinkronkan dengan potensi pariwisata kita. Nanti akan dipayungi oleh sub sektor film, animasi dan video,” pungkasnya.

Laporan : Samidin

Leave A Reply

Your email address will not be published.